Drone Thermal hingga Hujan Buatan: Teknologi yang Sedang Bekerja Memadamkan Karhutla Indonesia Saat Ini

Drone Thermal hingga Hujan Buatan: Teknologi yang Sedang Bekerja Memadamkan Karhutla Indonesia Saat Ini

September 8, 2026PT. Media Cipta Informasi11 dilihatBerita

Hingga awal September 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membakar sejumlah wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total kebakaran lahan gambut di enam provinsi prioritas, yaitu Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi, mencapai 72.008 hektare, dengan 71.274,29 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan per 7 September 2026 dan sisanya, sekitar 734,81 hektare, masih ditangani. Asap dari kebakaran di Kalimantan bahkan terekam satelit NASA dan dilaporkan menyebar hingga ke Malaysia.

Di Riau, luas lahan yang terbakar sejak awal tahun hingga 4 September 2026 tercatat sekitar 18.882 hektare, tersebar di 10 kabupaten dan dua kota. Di sisi hukum, Polda Riau hingga 7 September 2026 telah menangani 45 perkara karhutla dengan 49 tersangka. Di tengah situasi yang masih berlangsung ini, sejumlah teknologi benar-benar sedang dioperasikan di lapangan, bukan sekadar rencana, untuk mempercepat deteksi dan pemadaman.

Drone Thermal: Memburu Api yang Tak Terlihat Mata

Salah satu tantangan terbesar dalam karhutla, terutama di lahan gambut, adalah api yang menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah tanpa terlihat kasat mata. Sejak awal September 2026, BNPB mulai menggunakan drone thermal untuk mendeteksi titik panas tersembunyi ini, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. "Kami menggunakan hal yang baru saat ini dengan drone thermal yang bisa menemukan nanti titik-titik api di bawah permukaan yang tidak terlihat," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

Setelah titik panas bawah tanah teridentifikasi lewat drone thermal, BNPB menerapkan metode injeksi surfaktan, yaitu memasukkan zat kimia yang membantu air meresap lebih dalam ke tanah gambut sehingga kelembapan di sekitar sumber api meningkat dan bara tidak mudah menyala kembali. Kombinasi kedua teknologi ini menjadi langkah untuk mencegah titik api "hidup lagi" setelah api di permukaan berhasil dipadamkan.

Kamera Thermal untuk Berburu Bara di Permukaan

Selain drone thermal untuk titik api bawah tanah, BNPB juga mengerahkan kamera thermal guna memaksimalkan pencarian bara api yang masih menyala di area yang sulit dipantau secara visual, khususnya di kawasan Ring 1 seperti sekitar bandara dan permukiman warga di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Teknologi ini membantu tim darat memastikan suatu area benar-benar padam, bukan hanya tampak padam di permukaan.

Satelit dan Pemantauan Titik Panas

Pemantauan titik panas berbasis satelit tetap menjadi fondasi sistem deteksi dini. BNPB, bekerja sama dengan data dari satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA-20, terus memperbarui jumlah titik panas di berbagai provinsi. Sebagai gambaran, di Sumatera Selatan pada pembaruan awal September 2026 tercatat 92 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, 1.424 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan 40 titik dengan tingkat kepercayaan rendah. Data serupa juga digunakan untuk memantau Papua Barat, tempat satelit mendeteksi puluhan titik panas yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengiriman helikopter water bombing ke lokasi terdampak, termasuk di sekitar kawasan Tangguh LNG, Teluk Bintuni.

Data hotspot ini dipadukan dengan platform SiPongi milik Kementerian Kehutanan yang selama ini menjadi rujukan luas lahan terbakar secara nasional.

Water Bombing dan Strategi "Multiple Water Bombing"

Untuk pemadaman dari udara, BNPB saat ini mengoperasikan puluhan helikopter water bombing yang tersebar di provinsi-provinsi prioritas. Dalam rekapitulasi terbaru, sebanyak 36 unit pesawat dikerahkan untuk misi water bombing, sementara belasan lainnya digunakan untuk operasi modifikasi cuaca. Di Riau, misalnya, BNPB saat ini mengoperasikan lima helikopter water bombing, satu helikopter dan satu pesawat patroli udara.

Untuk wilayah dengan risiko tinggi seperti area sekitar bandara dan permukiman, BNPB menerapkan strategi bernama Operasi Multiple Water Bombing (OMSI), yakni mengerahkan dua hingga tiga helikopter water bombing secara bersamaan pada satu lokasi kebakaran agar pemadaman berlangsung lebih cepat dan menyeluruh.

Operasi Modifikasi Cuaca yang Masih Berjalan

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan masih rutin dioperasikan hingga pekan ini. Pada 7 September 2026, BNPB memulai Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah Jawa Tengah menggunakan pesawat Cessna PK-SNH, dengan bahan semai yang disebarkan melalui sistem waterrack di bawah sayap pesawat. Operasi ini tidak hanya ditujukan untuk mempercepat pemadaman karhutla, tetapi juga untuk meluruhkan sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang turut memperburuk kualitas udara di Jawa Tengah bagian barat.

Namun teknologi ini memiliki batasan alami: OMC hanya bisa dijalankan jika tersedia bibit awan yang cukup untuk disemai. Di Kalimantan Selatan misalnya, BNPB sempat tidak dapat melaksanakan OMC karena kondisi atmosfer belum mendukung dan tidak ditemukan titik-titik awan yang memenuhi syarat penyemaian.

Faktor Manusia Tetap Jadi Kunci

Meski deretan teknologi ini bekerja secara nyata di lapangan, penegakan hukum tetap berjalan beriringan. Selain 49 tersangka yang ditetapkan Polda Riau, kepolisian di berbagai daerah turut menetapkan ratusan tersangka lain sepanjang musim kemarau ini, menegaskan bahwa sebagian besar karhutla masih dipicu oleh aktivitas manusia, bukan semata faktor alam. BNPB pun terus mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah maupun lahan, serta segera melaporkan titik api yang ditemukan melalui panggilan ke 117.

Kesimpulan

Penanganan karhutla Indonesia saat ini bertumpu pada kombinasi teknologi yang benar-benar berjalan di lapangan: drone thermal dan kamera thermal untuk memburu bara yang tak terlihat mata, satelit untuk memetakan sebaran titik panas, armada water bombing dengan strategi OMSI untuk pemadaman cepat, serta operasi modifikasi cuaca untuk memancing hujan di tengah musim kemarau. Namun seluruh teknologi ini tetap bekerja berdampingan dengan penegakan hukum dan kesadaran masyarakat, karena tanpa keduanya, titik api baru akan terus bermunculan meski alat pemadam sudah secanggih apa pun.


Artikel ini disusun berdasarkan data resmi BNPB, keterangan pers, dan pemberitaan media nasional per 7-8 September 2026.